user-photo
Voice Of Borneo

Senyawa, Grup Musik Eksperimental Menyapa Pontianak

Spread the love

Voice Of Borneo – Grup musik experimental asal Yogyakarta, Senyawa yang telah melanglang buana di penjuru dunia malam ini menyapa Pontianak dengan pertunjukan bertajuk Berjumpa Titik Nol yang diadakan di Canopy Center, Kamis (3/5/2018).

Duo musik yang terbentuk pada tahun 2010 ini terdiri dari Rully Shabara dan Wukir Suryadi. Rully kerap mengeksplorasi suara-suara dari mulutnya, sedangkan Wukir merupakan pemusik bambu.

Sampai tahun 2017, senyawa sudah memiliki tiga album vinil dan ketiganya dirilis di luar negeri. Mereka juga memiliki album kolaborasi bersama musisi lain dari Jepang dan Amerika, ada juga album split dengan Melt Banana dari Jepang dan membuat single bersama band dari Prancis.

Senyawa tidak seperti band-band pada umumnya, seperti yang pernah diungkapkan Rully pada Jawapos.com, dia mengungkapkan jika Senyawa merupakan kolaborasi musik yang terus-menerus dilakukan, Rully dan Wukir adalah dua individu yang berusaha bereksplorasi bersama, berbeda dengan band yang membuat lagu bersama.

Mereka menciptakan beragam bunyi-bunyian, terinspirasi dari mana saja. Mulai dari lingkungan, alam, hingga benda-benda di sekitar.

Sejak melangsungkan konser solo pertama mereka di Gedung Kesenian Jakarta pada 2016 lalu, Senyawa mulai memperkenalkan diri di dalam negeri.

Kali ini mereka menyambangi Kota Pontianak, pertunjukan mereka dibuka oleh penampilan dari kolektif musisi Balaan Tumaan dan R.E.O.T, dua rapper Joe de Flash dan Emen.

Pertunjukkan dimulai sejak pukul 19.30 WIB. Saat ditemui sebelum pertunjukan, Wukir mengungkapkan akan membawakan 16 atau 18 lagu. Dia mengungkapkan dengan diadakannya kegiatan malam ini, Senyawa ingin berinteraksi dan berbagi pengalaman bermusik dengan skena musik di Pontianak. Baginya ini adalah momentum yang sangat penting, karena Senyawa ingin bersilahturahmi dan mengetahui bagaimana respon teman-teman di Pontianak dengan karya mereka.

“Harapannya kita semakin akrab dengan musisi di sini,” tuturnya.

Sebagai musisi dia merasa perlu mensosialisasikan apa yang telah nereka buat, agar tahu bagaimana efeknya kepada penonton. Dia menjelaskan jika ini merupakan bagian dari tanggung jawab musisi untuk berbagi pengalaman musik.

“Kami mencoba berekspresi maksimal malam ini, dan berharap penonton bisa memikirkan sesuatu,” ujarnya.

Selain itu dia juga menyebut alasan mengapa memilih Balaan Tumaan untuk membuka pertunjukan Senyawa.

“Balaan Tumaan adalah anak-anak muda yang bisa membuat ekspresi dengan bahasa ibu, sangat akrab dengan kearifan lokal karena kitabnya ada di sekeliling mereka,” ungkapnya.

Keingin-tahuan pada berbagai eskpresi musik melalui sarana kearifan lokallah yang menjadi salah satu alasan mengapa Senyawa datang kemari. Dia juga mengungkapkan pendapatnya mengenai skena musik di Pontianak yang dinilainya guyub, bisa saling dukung.

“Saya ingin tahu untuk pertunjukan nanti ada berapa penonton yang datang,” paparnya.

Di akhir obrolan Wukir memberikan pesannya pasa orang-orang yang berkarya di bidang musik agar selalu jujur dalam tiap karya. Jujur terhadap apa saja yang ingin dimainkan dan disetujui.

“Pesannya juga untuk orang-otang yang berkarya di bidang ini, selamat berkarya sebaik mungkin dengan maksimal karena sekarang dunia sudah global, kita hanya butuh internet untuk memperkenalkan karya kita, walaupun dari desa, karya kita bisa didengarkan seluruh dunia,” tutupnya.


Tinggalkan Balasan