user-photo
Voice Of Borneo

Film Puduu’ Anak, Sisi Lain Kehidupan Anak Manusia di Pedalaman Kalimantan Barat

Spread the love

Voice Of Borneo – Nyanyian Puduu’ Anak yang dilantunkan Balaan Tumaan ensamble bersama murid-murid Sekolah Canopy memenuhi ruang Galeri Canopy Center, tempat di mana film dokumenter Puduu’ Anak garapan Venie Hartinie dan Deny Sofian akan ditayangkan untuk kali pertama. Malam itu adalah malam kedua rangkaian acara Voice of Borneo.

Mulai dari penggiat film, aktivis lingkungan dan sosial, hingga kaula muda memadati ruangan itu.  Puduu’ Anak yang berarti lagu anak merupakan lagu penghantar tidur yang sering didendangkan masyarakat suku Dayak Kayaan di Mendalam Kapuas Hulu.  Nana, vokalis dan pemain instrumen kledi’ di Balaan Tumaan mendendangkan lagu ini dengan indah, ditambah dengan paduan suara murid-murid Sekolah Canopy yang diiringi suara Cello dan Sape’ Kayaan yang membuat suasana sangat bersahaja.

Setelah penampilan epik tersebut, lampu dimatikan, yang tersisa hanya layar yang mulai menayangkan film dokumenter yang digarap lima tahun lalu. Film Puduu’ Anak berkisah tentang dua bersaudara, Mimi dan Ipet yang bertahan hidup dalam keterbatasan tetapi tetap memelihara mimpi mereka untuk mendapatkan pendidikan layak.

Mereka berdua merupakan potret buram dari kondisi pendidikan dan infrastruktur di pedalaman Kalimantan Barat. Penonton disuguhi dengan pemandangan jalan menuju lokasi yang sangat buruk, tanah liat yang nyaris menenggelamkan kendaraan yang melewatinya.

Demi mendapatkan akses pendidikan, Mimi dan Ipet harus tinggal di kampung yang terpisah dari orang tua mereka karena jika tetap bertahan di kampung asal, jarak yang mereka tempuh untuk ke sekolah sangat jauh, ditambah lagi dengan kondisi jalan yang rusak parah. Jadilah dua bersaudara ini tinggal di sebuah gubuk kecil di desa Mentebah, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang.

Gubuk yang mereka tinggali sangat memprihatinkan, sulit membayangkan jika di bangunan kecil tersebut ada dua anak manusia yang tetap memelihara semangat mereka untuk sekolah di tengah keterbatasan. Tetap memelihara impian untuk mengubah nasib dan mendapatkan hidup yang lebih layak di kemudian hari melalui pendidikan.

Ketika teman seusia mereka menikmati masa kecil dengan bermain bersama teman dan keluarga. Mimi yang masih 9 tahun harus mengemban tanggung jawab untuk dirinya sendiri dan adiknya Ipet yang masih 7 tahun. Mereka mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari menanak nasi hingga mencuci pakaian sendiri. Memenuhi kebutuhan pokok dengan cara yang mereka bisa, mencari pakis, pucuk ubi, atau sayuran apa saja yang bisa mereka olah. Namun bantuan paling sering datang dari tetangga yang prihatin, sementara kiriman dari orang tua tidak jelas kapan tiba. Apalagi ayah dan ibu mereka telah bercerai, masing-masing telah memiliki keluarga baru.

Untuk anak seusia mereka, mampu bertahan hidup saja sudah hal yang luar biasa, apalagi jika melihat kedewasaan Mimi menerima nasib.

Dari bibir mungil anak usia 9 tahun, kalimat-kalimat polos bernada perjuangan menghadapi hidup yang papa mengalir dengan lancar. Dengan logat Dayak yang sulit dihilangkan dia menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Dia dan adiknya yakin, di negara ini semua orang memiliki hak untuk hidup layak, semua orang pasti bisa keluar dari kehidupan miskin dan hidup lebih manusiawi di kemudian hari, caranya melalui pendidikan.

Menonton Puduu’ Anak berarti menyaksikan permasalahan sosial yang dihadapi banyak masyarakat perbatasan. Bagaimana infrastruktur jalan yang layak dibutuhkan untuk menopang kehidupan, begitu pula dengan potret pendidikan, bahkan menyajikan posisi anak sebagai korban ketika orang tua memilih bercerai.

Film berdurasi lebih kurang 30 menit ini melibatkan Balaan Tumaan dan Manjakani untuk mengisi soundtrack. Suara khas Nabilla yang halus menyapa telinga penonton melalui lagu berjudul Rumah, begitu pula karakter musik Balaan Tumaan yang membingkai kisah dua beradik yang tabah ini. Film ini sukses membius puluhan pasang mata yang menyakiskannya. Ketika lampu kembali dinyalakan ada beragam ekspresi yang tertangkap, menggambarkan kesan yang mereka dapat melihat kehidupan Mimi dan Ipet.

Seperti yang diungkapkan Denny Sofian di sesi diskusi, film ini merupakan kerinduannya bersama sang istri Venie Hartinie untuk berkarya. Meski digarap lima tahun yang lalu sentuhan terakhir untuk film ini dilakukan sekitar 3 hari sebelum tayang perdana. Karya terakhir mereka sebelum Puduu’ Anak adalah film dokumeter berjudul Indonesa Tepi Batas, film yang keluar tahun 2011 ini menyabet dua penghargaan dalam Festival Film Yogjakarta bahkan dijadikan kajian oleh sebuah universitas di Singapura.

Malam itu, di hadapan para penonton film  Puduu’ Anak, Denny sofian dan Venie Hartinie berhasil menghadirkan potret lain kehidupan anak manusia di pedalaman Kalimantan Barat, bagaimana tabahnya menerima nasib, berjudi dengan kehidupan di usia belia, merawat impian dan memelihara semangat untuk sekolah.

Di luar sana ada banyak Mimi dan Ipet yang lain. Melalui karyanya, Deny dan Venie mencoba mengetuk nurani kita untuk sejenak melihat kisah Puduu’ Anak lainnya.

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan