user-photo
Voice Of Borneo

Voice of Borneo, Ajang Silaturahmi dan Komunikasi Pelaku Seni di Borneo

Spread the love

Voice Of Borneo – Delapan tahun yang lalu ide untuk mengumpulkan semua komunitas dan pekerja kreatif dari berbagai bidang di Kalimantan Barat tercetus di benak Deny Sofian dan teman-temannya. Mereka ingin menghadirkan sebuah ruang di mana semua komunitas dan pekerja industri kreatif di tanah borneo bisa bersinergi, saling jumpa dan membentuk ekosistem yang bisa membesarkan karya mereka.

Bertahun-tahun mimpi itu terus dipelihara hingga tahun 2018 tiba, bukan waktu yang singkat memang. Bulan Mei sengaja dipilih karena bulan inilah Canopy Center didirikan dua tahun yang lalu.

6 Mei 2018 menjadi hari penting di mana gagasan itu akhirnya terwujud. Acara Voice of Borneo; a story of creativity from the land of diversity diselenggarakan pertama kalinya. Acara ini berlangsung satu pekan penuh, mulai 6 Mei-12 Mei 2018 di Canopy Center.

Voice of Borneo menghadirkan music performance dari puluhan band dan musis Kalbar, art performance, live mural, exhibition, sharing and discussion, dan bazaar yang diisi oleh berbagai industri kreatif.

Totalnya ada 30 band yang berpartisipasi mulai dari band-band yang baru muncul di Borneo, hingga band yang sudah malang melintang di industri musik.

Voice of Borneo diwarnai juga oleh bernagai penampilan seni, mulai dari stand up comedy, penampilan tetaer, sanggar, aksi dari komunitas kreatif, bahkan adik-adik dari Sekolah Canopy turut meramaikan acara ini.

Insan-insan kreatif yang kerap menuangkan isi kepala melalui gambar juga ikut dalam event yang rencananya akan jadi event tahunan dari Canopy Center. Mereka mengadakan live mural dan menghias tembok-tembok kosong termasuk lantai sekitar venue.

Voice of Borneo juga semakin meriah oleh exhibition yang menyajikan pameran tunggal fotografi “Puduu’ Anak” oleh Denny Sofian, pameran tunggal sketsa “Lost Borneo” karya alm. Bing Purwanto, premier film Puduu’ Anak garapan Venie Hartinie dan Denny Sofian, serta launching buku Unkonvensionil karya Martin Siregar.

Semua ini dikemas dalam satu event.

Hari pertama Voice of Borneo dimulai dengan sharing dan diskusi antarkomunitas.

Bermacam-macam komunitas dan pekerja industri kreatif hadir. Mulai dari komunitas literasi hingga olahraga, mulai dari penulis, pelukis, penari, musisi, pemain teater, visual art, design grafis, hingga penerbit lokal turut menyemarakkan diskusi pada tanggal 6 Mei 2018 yang menjadi pembuka Voice of Borneo.

Canopy Center, tempat diselenggarakannya event ini seketika penuh oleh orang-orang kreatif dari berbagai bidang. Setiap hari, silih berganti orang-orang berdatangan. Ada yang datang untuk menikmati karya yang dipajang, ada yang datang untuk menemui orang-orang kreatif lainnya, ada pula yang sekadr datang untuk merasakan atmosfer berada di tengah-tengah orang yang sangat mencintai karya.

Seperti yang diungkapkan pendiri Canopy Center, Deny Sofian. Dia ingin tempat ini menjadi rumah bagi ide-ide kreatif di Kalimantan. Canopy Center siap jadi tempat bagi semua orang yang ingin berkarya dan yakin pada mimpi-mimpinya dan Voice of Borneo adalah langkah awal untuk membangkitkan semangat itu. Semangat berkarya meski masih minim apresiasi, semangat berkarya karena yakin suara-suara di kepala bisa diungkapkan dengan cara yang indah.

Selama satu pekan, di satu bagian di Kota Pontianak, orang-orang yang tabah merawat impiannya dan selalu keras berteriak “make art not war” berkumpul bersama, Voice of Borneo jadi ajang silahturami, yang belum kenal jadi saling kenal, yang sudah kenal kembali dipertemukan di acara ini.


Tinggalkan Balasan