user-photo
Voice Of Borneo

Voice Of Borneo, Merawat Asa untuk Berkarya

Spread the love

Voice of Borneo – Hari pertama pekan Voice of Borneo dimulai dengan agenda temu komunitas yang membuka ruang sharing dan diskusi antar pelaku seni di Kalimantan Barat. Acara tersebut berlangsung pada tanggal 5 Mei 2018 di galeri Canopy Center, Jalan Purnama II Pontianak.

Ibaratkan black hole, malam itu Canopy Center jadi titik temu yang menyedot perhatian para pekerja industri kreatif dan mengantarkan mereka menuju dimensi lain, membawa mereka hanyut dalam diskusi hangat tentang karya dan semangat yang terus dipelihara.

Mulai dari musisi, content writer, pekerja seni di bidang visual art, designer, penari, pelukis, pemain teater, hingga pembatik memadati galeri Canopy Center. Dipandu oleh Kajo, pembawa acara yang akrab di telinga kalangan muda Kota Pontianak, diskusi itu mengalir layaknya obrolan antarsahabat. Semua yang hadir memberikan suara, menyampaikan kendala yang dialami sehingga karya mereka sulit berkembang.

Jika biasanya kita melihat mereka beraksi, kali ini mereka bersaksi: imajinasi minim apresiasi. Kerja-kerja dan karya-karya sekadar dibalas terima kasih. Padahal, tidak sedikit yang mereka keluarkan. Perlu waktu dan putar otak. Maka pertanyaannya, bisakah mereka hidup dari karya?

Seperti yang dituturkan Fahmi yang sehari-hari berkarya di Lantai Empat, sebuah multimedia yang menjadi sarana apresiasi kreatifitas anak muda di Pontianak. Berdasarkan penuturannya, dia dan teman-temannya di Lantai Empat sering kali hanya mendapatkan ucapan terima kasih, tidak dibayar sama sekali. Padahal dalam bekerja mereka tidak hanya mengeluarkan tenaga dan menghabiskan waktu, tapi juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini membuat mereka sulit berkembang apalagi bersaing. Keluhan ini juga disampaikan rapper R.E.O.T, Joe yang menganggap semua akar dari terbatasnya perkembangan karya musisi dan pekerja kreatif lainnya adalah persoalan apresiasi dari masyarakat, dalam berkarya mereka tak jarang hanya dihargai dengan ucapan terima kasih.

Kendala lainnya diungkapkan oleh seorang pelukis, Aad yang telah berkarya selama 14 tahun. Jika Fahmi mengeluhkan apresiasi, maka Aad mengungkapkan pendapat yang nampaknya membekas di hati para peserta diskusi. Menurutnya Kalimantan Barat memiliki banyak pekerja seni berbakat dan bertaring di luar sana, namun yang jadi kendala adalah pergerakan yang dilakukan sendiri-sendiri, tidak saling rangkul. Dia merasa para pekerja seni di Kalimantan Barat masih belum kompak, belum saling dukung. Padahal dia yakin jika semua pekerja seni saling dukung maka apresiasi yang didapat atas karya mereka juga akan besar, apresiasi tidak hanya diterima di lingkungan sesama pekerja kreatif Kalbar, tapi bisa sampai ke tangan-tangan penikmat seni di luar Kalbar.

Berbicara tentang karya maka kita bicara tentang eksistensi. Meski Pontianak dianggap masih minim apresiasi terhadap karya-karya pekerja seni, ada satu musisi Pontianak yang tetap esksis dan konsisten berkarya meski dalam keterbatasan. Dia adalah Puckmude, musisi yang sudah tidak asing di mata dan telinga masyarakat Pontianak. Lagu-lagunya mengangkat lokalitas yang bisa ditemui dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari, kadang sarkas dan agak satir.

Dalam kesempatan itu dia membagikan pengalamannya mengakali keadaan agar tetap bertahan di industri ini. Mulai dari berjualan merchandise hingga mendatangi berbagai warung kopi untuk menawarkan ide kreatifnya yang berujung pada Tour Warung Kopi. Dia memanfaatkan jumlah warkop yang berlimpah di Pontianak sebagai tempat bermusik. Ditawarkannya kerjasama dengan pemilik warkop hingga dia bisa bermain di sana, dari 50 targetnya ada 37 titik warkop yang sudah dia sambangi.

“Untuk teman-teman, harus semangat berkarya, kalau mau bertahan kita harus menyingkirkan gengsi kita, kita berkarya untuk didengar orang lain, jadi jangan malu menampilkannya,” pesannya pada peserta yang lain.

Semangat berkarya juga diberikan oleh Perdana Putra, seorang designer grafis yang banyak membagikan pengalamannya dalam menjajakan karya. Putra yakin, dalam berkarya kita selalu menghadapi dua sisi, berhadapan dengan idealisme dan kebutuhan. Untuk orang-orang yang ingin hidup dari karya, dia menyarankan untuk tidak terlalu idealis sehingga menutup mata pada kebutuhan dan minat konsumen. Idealis boleh saja, karena karya yang lahir dari kepala para idealis seringkali menjadi karya terbaik, ini bagus untuk dikumpulkan dan dijadikan portofolio, sementara jika ingin menghasilkan uang dari karya maka harus dipastikan karya yang dibuat memang menjadi kebutuhan konsumen sehingga karya tidak sia-sia.

Ketika yang lainnya memiliki kendala minim apresiasi, ada juga orang-orang kreatif yang tidak berani berkarya karena merasa tidak memiliki modal. Padahal karya tidak melulu lahir dari alat-alat yang mewah.  Seperti kata Yoga, seorang pekerja seni di bidang visual art yang lebih nyaman disebut Wild Bornean. “Tidak ada alasan untuk patah semangat dalam berkarya, kadang yang ingin berkarya memikirkan modal dan keterbatasan bahan, padahal kita bisa manfaatkan apa saja yang ada di sekitar kita. Kita hanya harus berani melawan keterbatasan kita,” ucapnya dengan lantang kemudian disusul tepuk tangan peserta diskusi.

Sharing yang bersahaja malam itu ditutup oleh pendiri Canopy, Denny Sofian, dia berusaha menyemangati semua yang telah hadir dan mau berbagi, malam itu ide besar pertemuan ini adalah bertemu untuk berkolaborasi dan Canopy Center siap menjadi rumah bagi ide-ide kreatif itu untuk berkembang, berporses bersama, dan menciptakan iklim kreatif yang diapresiasi, tidak hanya tuntas dengan ucapan terima kasih. Tetapi dapat menghasilkan karya nyata, bekerjasama untuk mencapai tujuan mulia tersebut.

 


1 Comments
  1. Post Author

    TERBAIK

Tinggalkan Balasan