user-photo
Voice Of Borneo

Launching Buku Unkonvensionil Karya Martin Siregar

Spread the love

Voice Of Borneo – Mengenakan kemeja warna putih dengan lengan yang dilipat ke atas dan celana jeans panjang dia duduk tenang di depan bangku-bangku yang disusun melingkar di dalam ruangan. Dia memandang satu per satu orang yang memasuki galeri Canopy Center, sesekali dia melambaikan tangan untuk menyapa atau hanya melempar senyum.

Dia adalah Martin Siregar, sosok yang kerap dipanggil Opung. Malam itu, 8 Mei 2018 tepat hari ketiga diselenggarakannya Voice of Borneo dia meluncurkan buku ke-empatnya yang berjudul Unkonvensionil. Sebelumnya dia telah menerbitkan buku berjudul Istriku Kumpulan Cerpen Unkonvensionil, Kawan Kentalku Bason Kumpulan Cerpen Unkonvensionil, dan Kumpulan Renungan Singkat Unkonvensionil.

Buku kali ini bercerita tentang sejarah linear yang dialaminya selama menyusuri penulisan unkonvensionil. Kisah di buku ini dimulai sejak dia senang menulis catatan harian pada tahun 1986 hingga perjumpaannya dengan dua teman di Yogya yang banyak memberi masukan tentang penulisan unkonvensionil, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan hijrah ke Pontianak, pertemuan dengan orang-orang baru hingga mendirikan sebuah lembaga. Buku Unkonvensionil juga memaparkan tujuh prinsip dasar menulis Unkonvensionil serta wacana untuk menggeluti gerakan menulis dengan gaya ini di Kalbar.

Dalam sesi diskusi seputar buku Unkonvensionil, Martin Siregar menjelaskan jika ditelisik dari pandangan subjektif maka dia mengartikan gaya menulis unkonvensionil sebagai sebuah gerakan perlawanan terhadap tata Bahasa Indonesia yang ditetapkan oleh negara.

Menurutnya tata bahasa yang ditetapkan negara hanya mampu dipahami orang-orang berpendidikan sehingga maksud yang ingin disampaikan tidak bisa diserap oleh semua kalangan. Karena itu Unkonvensionil mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar melainkan menggunakan bahasa Indonesia yang gampang dimengerti.

Dia berharap buku Unkonvensionil dapat berkontribusi untuk pengembangan minat baca tulis di Kalimantan Barat. Karena lahirnya gerakan unkonvensionil adalah untuk membuat bahasa bisa dipahami semua kalangan dan membangun hubungan emosional antara pembaca dan penulis.

 

 

 


Tinggalkan Balasan