user-photo
Voice Of Borneo
  • Juni 29, 2018
  • Seni

Puji Rahayu, Pantang Menyerah dalam Berkarya

Spread the love

Voice Of Borneo – Jemari itu menari lembut bersama kuas di sekelilingnya. Dengan manis, cat warna warni mulai berkeliaran di kain yang terpasang rapi di atas wadah kayu. Itulah aktivitas yang dilakukan oleh Puji Rahayu, seorang pelukis perempuan di Kalimantan Barat.

Puji, begitu orang menyapanya sudah menekuni kebiasaan itu sejak dirinya masih SMP. Melantunkan kuas dengan balutan cat hingga menjadi sebuah karya yang tak biasa jadi ruang penyampaian aspirasi spiritual perempuan dan keluarga.

Ada pepatah mengatakan bisa karena biasa. Hal tersebut juga berlaku untuk perempuan kelahiran Tulungagung, 28 Agustus 1977 ini. Meski melukisnya sudah terlihat sejak usia belia akan tetapi dirinya tetap mengasah kemampuan dengan menggambar setiap harinya.

“Tiap hari saya melukis, di jalanpun saya melukis. Dulu belum kenal kanvas jadi saya lukisnya gunakan karung segitiga biru. Orang tua juga dukung, ada uang sedikit langsung untuk beli cat,” cerita Puji.

Hidup dari keluarga dengan latar belakang kurang mampu tak membuat semangat Puji menjadi pudar, tapi itulah yang memicunya semakin giat belajar dan menelurkan karya demi karya. Sejak kelas 1 SMP, Puji biasa menjadi wakil sekolah untuk bertanding di acara Agustus-an dan tak jarang membawa pulang piala.

Namun, perjalanan tak selalu mulus, selalu ada rintangan dan tantangan yang harus dihadapi. Karena kekurangan biaya, setelah lulus SMP, Puji Rahayu harus menganggur selama satu tahun. Usaha terus dilakukan agar tahun berikutnya dapat melanjutkan ke tingkat SMA. Akhirnya, berbekal karya dan keinginan yang kuat, Puji Rahayu berhasil diterima di SMA Santo Thomas Aquino Tulungagung, sekolah yang menyediakan ektrakulikuler seni.

Saat itulah Puji kembali ditempa untuk lebih giat belajar dan berusaha keras untuk bertahan agar tetap sekolah. Bakat melukis tak boleh disia-siakan, ini bisa kita namakan belajar sambil jalan. Melukis dan melukis kemudian hasilnya dijual kepada teman sebaya. Tidak hanya itu saja, setiap Idul Fitri, kartu ucapan juga laris manis, pendapatan Puji kian mampu menopang hidupnya.

Lulus dari SMA, Puji kembali harus berjibaku dengan sekelumit kisah. Jiwanya kini hampir diselubungi oleh niat melukis. Tak heran perempuan berambut panjang ini memutuskan untuk kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tapi sayang, niatnya harus kandas. Ia dinyatakan tidak lulus.

Tapi, bukan Puji namanya kalau mudah menyerah. Gagal bukan akhir tapi awal dari sebuah perjalanan panjang. Tahun berikutnya yakni tahun 1999, dia berhasil lulus dan sah menjadi mahasiswa di ISI Yogyakarta. Disinilah, pahit manisnya kisah itu di uji. Bukan saja mental yang harus kuat, tapi hati dan niat tak bisa ditinggalkan.

“Kuliah di ISI itu berat, banyak tantangan jadi harus kuat untuk bertahan. Abang saya juga sudah pernah bilang tidak mudah untuk mampu bertahan sampai selesai ke ISI, apalagi perempuan,” kisahnya.

Memang, tantangan itu akhirnya dia hadapi. Kritikan pedas atas sebuah karya tak dapat dihindarkan. Setiap dosen memberikan tugas yang berat, minimal 10 sketsa harus diselesaikan dalam waktu seminggu, jika tidak maka tugas akan berlipatganda.

Rintangan yang menghadang langkah Puji akhirnya mampu diselesaikan hingga ke tugas akhir. Tapi sayang, kesedihan melanda jiwa, sebelum menyelesaikan tugas akhir itu, Ayahnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Semangatnya turun, keceriaan mulai memudar karena kehilangan sosok yang selalu memberinya semangat. Kini, tumpuan kasih sayang hanya dilabuhkan kepada ibunya.

Tugas akhir tetap dijalankan. Tapi, Tuhan berkata lain, sebelum wisuda, ibunda tercinta Puji pergi menghadap Sang Pencipta. Kebahagiaan yang harusnya dapat dirasakan bersama tinggal kenangan. Kini, Puji dan abang-abangnya jadi yatim piatu. Itulah yang memicu Puji semakin giat berusaha. Meski dirinya anak bungsu dan perempuan tapi dia memiliki semangat dan mental baja.

Setelah itu, putri bungsu dari empat bersaudara ini memberanikan diri untuk pameran tunggal. Ternyata, ada orang dari Spanyol yang ikut menikmati karya tersebut dan akhirnya kontrak Puji untuk jadi pelukis dengan bayaran harian.

Setelah satu tahun bekerja, Puji yang dikenal memiliki prestasi baik di kampusnya kemudian dihubungi seorang dosen untuk membantu kelola Galeri Seni di Yogya tepatnya tahun 2006. Puji memang seseorang yang tekun dan giat belajar, meski awalnya kesulitan tapi tempat itulah yang menjadi wadah bagi dirinya belajar manajemen dan juga pemasaran. Dalam pameran yang digelar hampir setiap bulan oleh Galeri tempatnya bekerja, lukisan di Galeri tersebut hampir terjual habis, tentu saja itu adalah pencapaian yang luar biasa.

Meski sibuk bekerja, tapi melukis adalah separuh hidup Puji. Tak mau hal itu hilang, disela-sela kesibukan pekerjaan dia tetap menelurkan karya hingga tahun 2008 mendapat kesempatan untuk pameran di Bali kemudian ada kesempatan pameran lagi bersama kelompok angkatan di Jogya. Inilah perjalanan Puji merangkai kisah tetap konsisten dalam berkarya.

Setiap karya yang dihasilkan lebih banyak mengangat tema perempuan. “Suatu spirit seorang ibu yang setiap langkah selalu dengan kekuatan doa. Berliku-liku perjalanan maka dikuatkan dengan doa. Ibuku, apapun didoakan. Bahkan kepada alampun berdoa. Spirit perempuan itu juga melihat perkembangan perempuan-perempuan pejuang dan perempuan hebat. Melihat mereka harus jadi tulang punggung. Bebannya berat, mereka bekerja tidak hanya untuk bisnis semata,” tutur isteri dari Mbah Dinan ini.

Akhirnya, tahun 2009 dia menikah dengan Dinan, pria asal Banjarmasin tetapi menetap di Kota Pontianak yang juga seniman. Meski awalnya coba jalin hubungan jarak jauh, tetapi kehadiran anak pertama membuat Puji dan suami tidak boleh pisah. Sang suami tidak mengizinkan Puji kembali ke Yogya dan memilih tinggal di Pontianak.

Ini menjadi masa sulit dan meredupnya karya pelukis tak kenal lelah ini. Pontianak tidak memiliki wadah layaknya di tempat asalnya, Yogakarta. Peralatan lukis belum memadai sehingga tak jarang harus memesan ke Yogya, tapi untunglah, dua tahun belakangan sudah ada yang membuka toko peralatan lukis lengkap di Pontianak.

Ketika ngobrol panjang dengan Puji, dia menceritakan sulitnya mengembangkan seni di Kalimantan Barat. Banyak faktor yang mempengaruhi itu semua. Dua tahun sempat vakum akhirnya tahun 2011 kembali membuat karya dengan fasilitas apa adanya.

“Kalimantan Barat seperti pincang karena pilar kesenian ada dua seni rupa dan pertunjukan. Di Kalbar seni rupa belum kokoh, tidak ada galeri dan pameran juga kurang. Di Pontianak itu pameran belum tentu nonton. Kita jelaskan belum tentu paham. Dari semua elemen seperti kurang apresiasi,”

Wadahnya juga tidak tersedia. Masih banyak hal yang harus dibenahi agar seni khususnya lukis dapat dikembangkan di Kalbar.

Tahun 2013 jadi sejarah baru bagi Puji, ibu dari Alma dan Sadad ini jadi salahsatu kurator untuk karya-karya asal Kalbar yang akan ikut dalam pameran karya Maestro se-Indonesia di Kalbar. Setelah itu, jarang sekali ada pameran dilakukan, tetapi hanya sebatas kegiatan biasa.

Sementara untuk sekarang, Puji hanya menjadi juri berbagai event yang diadakan di Pontianak dan juga jadi guru lukis bagi siapa saja yang mau belajar. Kegiatan melukis tidak semudah ketika di Yogya, jadi berkarya hanya saat waktu kosong dan hati yang meminta, bukan lagi kegiatan setiap pagi seperti dulu sebelum tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat ini.

Melihat keadaan Pontianak yang tidak ramah seni, Puji berharap nantinya disediakan wadah atau Rumah Seni di Pontianak. Tidak hanya untuk pelukis tetapi semua element seni dapat menikmati fasilitas tersebut.

Untuk melihat karya-karyanya Puji Rahayu, dapat langsung berselancar di akun Facebook Puji Rahayu.

 

 


Tinggalkan Balasan