user-photo
Voice Of Borneo

Mata Elang, Berani Berkarya dengan Gaya Berbeda

Spread the love

Voice Of Borneo – Musik itu seperti makanan, ia memiliki penyukanya masing-masing, sebab setiap orang mempunyai selera yang berbeda. Kalau sama semua maka tidak akan berwarna, hambar seperti sayur tanpa garam. Setiap genre musikpun ada penyukanya masing-masing.

Ketika berbicara musik, kita lebih familiar dengan pop, folk, rock, maupun rege atau koplo, tapi apa jadinya kalau musik tahun 70-an digabung dengan musik ala Nirvana ? Cukup membuat hati penasaran.

Hal berbeda inilah ditampilkan oleh salahsatu band Pontianak yang menamakan diri Mata Elang. Dalam karyanya, mereka membuat lagu-lagu pengabungan antara musik Nirvana dan musik masa lampau, tahun 70-an.

Berawal dari inisiatif Saifudin untuk membentuk sebuah band akhirnya membawa Riko dalam sebuah project yang digarap bersama. Karena hanya dua orang, Rikopun memboyong Yudha untuk ikut serta maka terbentuklah Mata Elang atau Mael.

Band yang digawangi oleh Riko Yuditio (vocal dan gitar), Yudha Aditya (Drum), dan Saifudin (bass) sudah mengeluarkan single yang berjudul Sang Penakluk Mimpi. Single ini yang selalu digaungkan oleh pemuda dari berbagai latarbelakang ini.

Meski sekarang Mata Elang tidak rutin mengisi acara, tetapi semangat berkarya tetap ada. Tiga personil ini masih disibukkan dengan rutinitas kuliah. Tidak hanya itu, Riko Yuditio juga saat ini masih tour kecil-kecilan keliling beberapa café di Pontianak untuk promo album solonya. Mata Elang memang memiliki genre yang tak biasa, tapi sebagai seseorang yang romantis, Riko melabuhkan diri di musik pop.

Terbilang masih baru terbentuk tetapi rintangan dan halangan terus menghampiri. Mata Elang kini hanya mampu bertahan dalam waktu tunggu. Menunggu sang vokalis menyelesaikan tugasnya, tidak hanya itu saja, Saifudin dan juga Yudha kini memiliki kesibukan masing-masing. Dalam waktu tunggu tersebut, Saifudin dan rekan-rekannya masih aktif berkomunikasi dan mempersiapkan single terbaru mereka.

Genre musik yang dijalani mereka memang tak biasa maka tak sedikit yang merespon kurang baik. Diakui oleh Saifudin, biasanya ada kritikan pedas atas sebuah karya tapi itu bukanlah penghalang untuk terus berkarya melainkan semangat baru untuk tetap tampil dan menghasilkan karya untuk disuguhkan ke masyarakat luas.

Namun, kendala lain adalah tidak adanya wadah untuk musisi di Pontianak sehingga cukup sulit untuk latihan, semuanya harus usaha sendiri. Padahal, musisi juga menjadi salahsatu tonggat penting kemajuan suatu daerah, lewat seni segala hal dapat diekspresikan.

Saat ini, personil Mael sedang sibuk juga untuk menyelesaikan kuliah masing-masing agar nantinya lebih fokus dalam berkarya dengan harapan mendapat dukungan dari semua pihak, tersedianya rumah seni di Pontianak.

Bagi mereka, tidak main musik sehari seperti ada sesuatu yang hilang. Bermusik adalah cara untuk menyampaikan aspirasi dan mendamaikan jiwa.

Mata Elang dapat diintip melalui Instagram mereka di @mataelang


Tinggalkan Balasan