user-photo
Voice Of Borneo

Pecandu Buku, Jihad Literasi di Era Digital

Spread the love

Voice Of Borneo – Beberapa anak muda tampak asik menyusun buku di atas banner plastik yang dibentang memanjang, mulai dari buku anak hingga remaja diletakkan sana. Itu adalah lapak baca dari Komunitas Pecandu Buku Pontianak yang digelar di area Taman Digulis Untan. Lapak baca gratis jadi agenda mingguan Pecandu Buku bersama beberapa komunitas baca lainnya, mereka membawa buku-buku pribadi untuk dipinjamkan pada pengunjung Taman Digulis.

Anggota komunitas, Claudia Liberani mengungkapkan Pecandu Buku adalah komunitas baca yang anggotanya tersebar di seluruh wilayah Indonesia, bahkan hingga keluar negeri seperti Jepang, Taiwan, dan Filipina. Komunitas ini digagas oleh dua anak muda asal Bandung, Fiersa Besari dan Aulia Angesti, didirikan pada bulan Juli tahun 2015. Berawal dari keinginan untuk mengajak anak-anak muda untuk istirahat sejenak dari aktivitas di dunia maya dan kembali membaca buku meski hanya beberapa halaman dalam sehari, Pecandu Buku kini telah menjadi rumah yang mempertemukan para penyuka buku di berbagai wilayah.

Saat ini jumlah anggota komunitas sudah mencapai 479 dan Pecandu Buku telah diikuti 118 ribu orang di Instagram. Tidak hanya berbagi informasi tentang buku, komunitas ini juga sharing mengenai penulisan. Di komunitas ada beragam profesi dan latar belakang pendidikan anggota, tapi semuanya sepakat bahwa membaca adalah kebutuhan dan menulis adalah skill yang harus dimiliki siapa saja yang senang membaca. Syarat masuk anggota ini juga harus membuat satu ulasan buku. Ulasan buku harus orisinil, tidak boleh mengambil ulasan orang lain.

Tahun 2016 Pecandu Buku mendirikan taman baca di Bandung, pengelolaan taman baca juga dilakukan oleh anggota komunitas. Meski taman baca ada di Bandung, kegiatan di daerah lain tetap jalan. Berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menyebarkan virus membaca diadakan di masing-masing daerah, salah satunya membuka lapak baca gratis.

Pecandu Buku Pontianak membuka lapak baca gratis di Minggu sore, anggota komunitas di Pontianak ada 5 orang. Lima orang yang memiliki selera membaca berbeda tapi tetap semangat untuk sama-sama turun ke jalan atau acara-acara musik lalu membuka ruang baca gratis, membawa buku-buku kesayangan dan membiarkan orang lain membacanya. Dengan kesibukan bekerja, mereka masih meluangkan waktu untuk bersua di lapak baca gratis sementara diskusi diadakan di grup line.

Claudia mengungkapkan banyak hal positif yang dia dapat bergabung dengan komunitas ini. Tidak hanya menambah teman tapi juga memiliki kesempatan untuk membaca banyak buku menarik hasil rekomendasi teman-teman. Produktivitas menulis juga meningkat karena sering ada diskusi tentang dunia sastra dan jurnalistik.

Dia berharap tingkat baca tulis masyarakat di Kalbar semakin meningkat dari waktu ke waktu, karena kita hidup di masa di mana informasi bisa tersebar dengan mudah. Jika tidak ada kemampuan literasi media yang baik, akan sulit untuk mencerna kebenaran dan mengungkapkan pendapat secara jernih. Dia menegaskan bahwa membaca adalah kebutuhan, mustahil bisa bertahan dan bersaing dengan kepala yang kurang asupan bacaan. Makanya harus lebih banyak orang yang mau berbagi bahan bacaan, jadi yang tidak mampu membeli buku bisa meminjam.

Kalau tertarik bergabung di komunitas Pecandu Buku bisa menghubungi akun Instagram @pecandubuku jika ingin diksusi buku bisa menemui Claudia dan teman-teman yang aktif melapak buku setiap Minggu sore pukul 16.00 di Taman Digulis Pontianak.

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan