user-photo
Voice Of Borneo

Bobpardo, Musik adalah Ibunda

Spread the love

Voice Of Borneo – Alunan nada mengalir indah menemani sore itu. Padat makna terhadap keadaan sosial tapi ada pula yang romantis, suaranya lembut dan nyaman di jiwa. Itulah Bobpardo, solois rege asal Pontianak.

Pria kelahiran Sungai Belida, 12 Oktober beberapa puluh tahun yang lalu ini memutuskan untuk bersolo karier setelah sebelumnya bersama Xdamaica. Keputusan tersebut mulai ia jalani sejak Juni 2018. Baginya, berkarya ada sebuah keharusan dan terus dikembangkan.

Meski pernah tertatih berada di lingkungan grup band Xdamaica, meniti karier sebagai solois adalah panggilan Tuhan. “Apa yang terjadi kepada saya itu adalah panggilan Tuhan. Dia memanggil saya untuk berkarya solo, maka saya jalani,” katanya Bobpardo

Menyukai musik sejak kecil menjadikan pria berambut gimbal ini tak bisa jauh dari musik. Diakuinya musik seperti ibunda yang selalu menemani dirinya dan memberi kedamaian dalam bisikan jiwanya. “Bagi saya musik adalah hidup. Musik seperti ibunda. Karena ibu saya sudah meninggal jadi musik adalah ibu saya,” ceritanya.

Perjalanan bermusiknya di mulai sejak lulus SMA kemudian Bobpardo memutuskan untuk berangkat ke Kuala Lumpur, menggali lebih dalam lagi musik genre rege. Kemudian mulai paham dan makin jatuh cinta kepada musik ini.

Tahun 2002 dirinya pernah menjadi crew di kegiatan yang kerjaannya hanya mengangkut dan membetulkan kabel saja, hasrat untuk naik panggung dan ditonton banyak orangpun membara. Satu keinginan yang dia sampaikan kepada Tuhan, suatu saat ingin berada dipanggung dan membawakan beberapa buah lagu.

Mimpi itu terwujud, Tuhan memanggilnya untuk dapat membawakan lagu di atas panggung dan menghibur banyak orang. Namun, satu prinsip Bobpardo, ketika di panggung dirinya tak sama dengan penoton karena posisi berbeda tetapi setelah turun dari panggung, semua adalah sama.

Ketika bersama Xdamaica, Bobpardo dan tim sering ikut dalam berbagai festival musik di Kalimantan Barat. Kala tampil di atas panggung, air mata mengucur deras, membasahi pipi dan seisinya. “Itu adalah sebuah penghayatan, ketika kita membawa lagu penuh perasaan maka akan menangis,” curhatnya.

Tak hanya itu saja, pemilik rambut gimbal ini cukup melankolis, tak jarang dirinya terbawa perasaan ketika melihat antusias para penonton menyaksikan ia dan grupnya sedang manggung. Apresiasi besar yang disampaikan para penggemar selalu membuat hati bergetar dan penuh syukur.

Lagu-lagu yang dibawakan oleh bandnya memang sebagian besar adalah hasil dari penghayatan jiwa Bobpardo  diolah menjadi lirik nan indah dan memikat hati siapa saja yang mendengar. Setiap karya tercipta juga selalu mengambil tema yang bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Karya itu jadi renyah untuk dinikmati, pembawaan penuh perasaan menambah citarasa.

Disela-sela kesibukannya menelurkan karya, Bobpardo selalu menyempatkan diri berbakti kepada alam, memolesnya dan merawatnya. Selama 5 tahun terakhir, dirinya tidak pernah lupa untuk membersihkan sungai di kawasan rumahnya.

Kegiatan itu dilakukan demi terciptanya alam yang nyaman dan air yang bersih. Tidak hanya membersihkan sungai, dirinya rutin menanam pohon di kebun orang. “Saya pernah nanam pohon di kebun orang. Udah besar pohonnya di tebang lagi oleh masyarakat. Kita pikirkan anak cucu kita kalau alam hancur mau kemana mereka, sekarang malah beton yang tumbuh,” keluhnya.

Sifat mulia mulai terpatri dalam diri Bobpardo, dia juga tidak lupa berbagi rejeki kepada mereka yang membutuhkan, mereka yang terpinggirkan. Setiap hasil jerih payah dari karyanya selalu ada untuk mereka yang kurang mampu. Itulah Bobpardo, segudang kebaikan dibalik rambut gimbal.

Berpenampilan dengan rambut gimbalnya memang seperti manusia merdeka, tetapi stigma masyarakat sudah tidak baik tentang hal itu. Tak jarang Bobpardo dikira orang gila padahal baginya memiliki rambut gimbal ada spirit dan soul tertentu, tidak sembarangan.

Maka untuk mengawali solo kariernya, Bobpardo launching single lagu gimbal untuk orang handal. Lewat lagunya, ia ingin membagi spirit kepada mereka yang berambut gimbal dan memiliki hak yang sama dengan orang kebanyakan.

Meksi dalam karya sebelumnya lebih kepada keadaan sosial, kini ia akan fokus membuat karya tentang alam. Jiwanya sedih, hatinya rapuh kala melihat alam kita mulai menangis, alam mulai rusak dan tidak dirawat. Lewat lagu, ia ingin semua pihak mencintai alam.

Musik adalah hidup, karya dan cinta adalah keabadian. Menemukan cinta karena karya adalah kepingan kisah Bobpardo. Dirinya bertemu dengan seorang gadis berkat karya yang diciptakan. Kini ia tak sendiri lagi, jodoh mulai menghampirinya.

Namun, berkarya tidak selamanya indah, banyak halangan yang menghampiri. Mereka berlomba-lomba demi mematahkan semangat setiap insan yang mau berkembang. Terkhusus lagi di Pontianak, wadah bagi musisi itu tidak ada. Padahal, tanpa itu maka sulit sekali pengembangan diri.

Meski saat ini ada taman budaya, tapi belum mampu menopang, selain fasilitas belum lengkap ditambah lagi biaya sewa yang mematikan isi dompet. “Harusnya taman budaya itu milik bersama, nggak boleh disewakan tapi sekarang harus sewa dan mahal. Kekalahan kita itulah dan tidak di dukung Pemkot atau Pemprov,” cerita Bobpardo.

Bisikan hati kecilnya hampir serupa dengan musisi lainnya, mengharapkan adanya rumah seni di Pontianak yang boleh digunakan siapa saja untuk pengembangan diri. Semoga harapan itu kembali di panggil Tuhan agar Bobpardo dan teman-teman musisi dapat menikmati apa yang diimpikan selama ini.

Untuk tahu lebih banyak dengan Bobpardo dapat langsung mengintip di akun intagramnya @bob_pardo_.


Tinggalkan Balasan