user-photo
Voice Of Borneo
  • September 13, 2018
  • Musik

ROTA Rise of The Antelope, Dorong Kemandirian dan Produktivitas dalam Bermusik

Spread the love

Voice Of Borneo – Kesenangan bermusik menyatukan beberapa anak muda di Pontianak untuk bergabung dalam sebuah band yang dinamai ROTA. Band ini mengusung genre D-beat dan merupakan satu-satunya yang memainkan genre ini di Kota Khatulistiwa. D-beat adalah subgenre musik punk yang memiliki hentakan drum yang khas.

Bagi personil ROTA, musik jadi cara lain untuk bersenang-senang di sela-sela kesibukan dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.  ROTA digawangi oleh Ucup, Rio, Reri, Wahyu, dan Aldiman. Ucup dan Reri sebagai vokalis, Rio bermain bass, Wahyu gitar dan Aldiman sebagai drummer.

Ditemui di beranda Pojok Pustaka di Jalan Karimata ketika Pontianak sedang sendu karena kabut asap, mereka berbagai cerita tentang band ROTA.

ROTA merupakan akronim dari Rise of The Antelope. Nama ini lahir dari kepala Ucup. Antelope merupakan hewan yang selalu jadi sasaran cheetah, hewan tercepat di daratan Afrika. Tapi kelincahan antelope membuatnya selalu berhasil menghindari terkaman cheetah. Filosofisnya adalah bahwa orang-orang yang lemah bisa melawan, seperti antelope yang bisa survive dari buruan cheetah. Begitulah mereka meyakini bahwa tiap individu harus bisa bertahan meski keadaanya sulit.

Semangat inilah yang dibawa ke dalam komunitas musik mereka. Band yang dibentuk sejak tahun 2013 ini sudah mengeluarkan 5 album dengan 12 lagu yang diproduksi dan didistribusikan secara mandiri. Mimpi Buruk dan Counting Tears merupakan lagu yang mereka sepakati sebagai lagu yang paling berkesan bagi semua anggota band. Setiap lagu memiliki pesan masing-masing, ada yang berisi ajakan, ada juga yang lahir sebagai interpretasi dari pengalaman sehari-hari. Lagu No Forest No Future misalnya yang bicara tentang deforestasi akibat ekspansi perusahaan perkebunan kelapa sawit.

”Lagu ini kita buat sebagai kritik terhadap maraknya penebangan hutan untuk kepentingan korporasi kelapa sawit. Belum lagi para developer yang membuka lahan tanpa memperhatikan ekologis sehingga menyebabkan polusi udara,” ungkap Rery.

Dalam proses bermusik mereka mengaku memiliki referensi musik yang beragam, ditambah dengan masing-masing personil yang memiliki influence berbeda. Seperti Rio yang menyukai Oathbreaker, dan Rery yang menyukai Disclose, sebuah band dari Jepang. Sedangkan Wahyu menyukai band crush punk asal Brighton dan Aldiman menyukai Hello War. Ketika bermusik mereka saling melengkapi, ini terlihat jelas dari vokalis mereka yang berjumlah dua orang. Ini semakin memperkaya musik ROTA.

“Di sini kita adalah kolektifa, kita bermain dengan kolektif. Tidak ada paksaan,” tutur Aldiman yang mengaku bermusik karena masih senang memainkan musik, sejak kecil dia tumbuh di keluarga yang suka musik.

Anggota ROTA yang lain mengungkapkan alasan berbeda. Wahyu mengaku ngeband membuat hidupnya lebih semangat. Dia bisa meluapkan emosi yang dirasakannya di antara tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab.

“Life without music is mistake” tambah Rery mengutip ucapan seorang filsuf terkenal. Dia mengaku bermusik untuk mengisi waktu setelah sibuk bekerja. Musik membawa kesenangan tersendiri, itulah yang mereka rasakan.

“Have fun, sekali bermusik membuat ketagihan,” ungkap Rio.

Dengan bermusik mereka bisa mengungkapkan segala kegundahan dan protes. Seperti yang dikatakan Rery, meski tidak memiliki dampak secara langsung tapi setidaknya pikiran dan pendapat mereka bisa disuarakan.

Bicara tentang pengalaman manggung, pada tahun 2015 ROTA batal tampil di sebuah acara di Sungai Duri karena venue didatangi sekelompok orang yang mereka sebut preman dan preman-preman itu membubarkan acara yang sudah dikonsep matang oleh teman-teman di sana. Tapi itu tidak membuat jera, mereka selalu bersedia jika diminta untuk tampil.  Jalan-jalan ke daerah luar jadi hal menyenangkan lainnya yang bisa dirasakan anak band. Belum lagi perjumpaan dengan orang-orang baru maupun lama yang bergelut di dunia musik.

Saat ini mereka sedang menggarap album baru yang ditargetkan rilis akhir tahun 2018. Konsep yang diangkat masih seputar hal-hal yang ditemui sehari-hari. Ada juga tentang bullying. Di akhir obrolan mereka berharap agar musik dengan genre D-Beat semakin menjamur di Pontianak, sehingga ROTA tidak sendirian.

“Semoga skena musik kreatif Pontianak semakin berkembang, Jadi semakin banyak warna,” kata Wahyu.

Sementara itu Aldiman berharap agar kemandirian dan produktvitas bermusik semakin meningkat di Pontianak. Karena dia yakin bahwa kemandirian adalah sebuah perlawanan dari ketergantungan, kebuntuan, kemalasan, dan semua yang menghalangi seseorang untuk menyadari potensi dirinya.

Kalau ingin tahu tentang aktivitas bermusik teman-teman ROTA, silakan mengikuti akun instagram @rota_kolektif. Semangat mandiri dan produktif, teman-teman!

 


Tinggalkan Balasan