user-photo
Voice Of Borneo

Pentrate; Menembus Kesadaran Berkarya. Sebuah Pameran Tunggal dari Mildrafid

Spread the love

Voice Of Borneo – Lima belas karya street photography tampak berderet rapi di dinding ruangan Canopy Center. Di sisi dinding yang lain ada sembilan lukisan abstrak ikut dipamerkan, dilengkapi dengan empat buah maket dan lima poster desain interior. Semuanya merupakan karya Mildrafid, arsitek, desainer, dan seniman muda asal Pontianak yang menggelar pemeran tunggal bertajuk Penetrate; Menembus Kesadaran Berkarya di Canopy Centre mulai tanggal 15 September sampai 22 September mendatang.

Pameran ini dibuka dengan diskusi hangat yang diadakan sehari sebelumnya di Segitiga Coffee pada tanggal 14 September. Ditemui di ruang pameran, Afid sapaan akrabnya sangat ramah ketika diajak mengobrol.

Dia menjelaskan pameran ini memang sudah direncanakan untuk dilaksanakan bulan September. Harusnya pameran ini diadakan beramai-ramai dengan beberapa teman, tapi ternyata yang lain belum siap sehingga dia harus menggelar pameran ini sendirian. Meski Afid mengaku menyiapkan ini dengan spontanitas, nyatanya pameran yang dibuatnya berhasil menyedot pengunjung ke dimensi lain ketika melihat karya-karyanya. Mulai dari street photography, lukisan, maket, hingga poster yang ditampilkan memberi kesan tersendiri.

Untuk lukisan abstraknya, Afid menggunakan tiga warna, yaitu putih, hitam, dan biru. Kombinasi yang pas sehingga lukisan-lukisan ini menyedot banyak perhatian ketika pengunjung memasuki ruang pameran. Tiga warna memang jadi ciri khas karya Afid. Kali ini dia menampilkan warna biru karena dia sangat menyukai warna dari pertemuan laut dan langit.

Lukisan ini diakuinya sebagai karya paling personal yang dia pamerkan. Ketika membuatnya dia tidak memikirkan apakah bentuknya jadi sempurna atau tidak, dia memulainya dengan acak dan tidak ada pengulangan dalam melukis.

“Lukisan abstrak ini karya personal saya. Saya namai Migrain Abstrak karena banyak pola-pola yang terbentuk, selalu berubah-ubah di tiap sisinya. Ini sama seperti ketika saya mengalami migrain karena kadang ada fase di mana migrain membuat saya berubah hingga 90 derajat, kalau sedih bisa sedih sekali, kalau bahagia bisa bahagia sekali,” jelasnya.

Pemuda kelahiran Pontianak 27 tahun lalu yang memiliki basic pendidikan arsitektur ini kemudian bercerita mengapa Pentrate (penetrasi) diangkat menjadi tema pamerannya.

“Penterasi ibaratkan kota Pontianak yang dikelilingi tembok, tapi tembok ini sebenarnya hanya ada di pikiran kita. Bagaimana cara merobohkan pikiran yang jadi tembok ini agar kita bisa lanjut ke tahap berikutnya. Perspektif ruang ini yang saya ambil, bahwa ruang terbentuk bukan karena dinding yang jadi tembok tapi karena tembok-tembok yang tumbuh di pikiran kita,” tuturnya.

Seperti penjelasannya, lukisan abstrak dan foto dimunculkan bersamaan karena dalam arsitektur semuanya saling berkaitan.

“Arsitektur tidak bisa bicara tentang bangunan tunggal, begitu juga ruang tidak bisa berdiri sendiri, selalu beriringan dengan waktu. Penetrasi ruang-ruang yang ada bisa membebaskan kita menembus apa saja, mengikuti apa saja selagi kita menempah diri untuk berkembang dan bertumbuh.” Tambahnya.

Melalui foto street dia menunjukkan jika semua elemen baik itu desain dan seni terdapat di fotografi. Foto street membuatnya terlibat langsung dalam ruang interaksi manusia dengan lingkungan alam sehingga dia bisa melihat pengalaman ruang itu sendiri. Di jalan ada banyak ruang yang tercipta, ada banyak tembok yang terbangun di pikiran tiap individu.

“Semuanya saling terhubung. Termasuk karya-karya ini. Secara personal ini mengekspresikan diri aku sendiri, aku create tanpa ada pikiran apapun. Lukisan abstrak ini dibuat dengan action langsung. Bedanya di arsitektur semuanya harus dipikirkan,” paparnya.

Seni dan desain adalah dua hal yang saling berkaitan erat dengan street photography. Pemuda yang senang menggambar sejak kecil ini mengatakan ide baru kerap muncul ketika dia memotret di jalan, dia bisa melihat jika ada masalah yang bisa diselesaikan dengan desain dan di-create dengan seni, karena baginya tujuan hidupnya adalah untuk berkarya, belajar, dan berbagi.

Foto-foto yang dipajangnya merupakan pilihan dari teman-temannya. Karena dia senang traveling foto-foto tersebut diambil di lokasi berbeda. Ada yang di Pontianak, Singkawang, Malang, Bali, dan Bangkok.

Sementara untuk arsitektur, jika banyak orang berkarya untuk estetika dan di masa yang sekarang, berbeda dengan Afid yang lebih mementingkan fungsi dan selalu melihat jangka panjang. Seperti arsitektur nusantara yang dipelajarinya, bahwa arsitektur berkelanjutan, tidak pernah berdiri sendiri walaupun itu adalah bangunan tunggal secara komunal harus tetap dipikirkan.

“Arsitektur bagi saya adalah sebuah kanvas kehidupan orang-orang. Sebagai seorang arsitek saya menggambar arsitektur di atas kanvas tersebut,” terangnya.

Untuk poster yang dipajangnya itu adalah poster dari beberapa syembara yang pernah diikutinya dan sebagian lainnya merupakan pekerjaan. Poster-poster tersebut sudah diseleksi. Di sana tergambar dengan jelas betapa ide dan gagasannya tidak terbatas.

Tidak jauh dari poster-posternya ada sebuah pernyataan yang dibuat khusus oleh desainer arsitektural dan interior kenamaan Indonesia, Raul Renanda. Sebuah pernyataan tentang kejujuran dalam berkarya yang membuat pameran ini semakin bernyawa. Pernyataan yang menunjukkan kedekatan keduanya.

“Tapi pameran ini belum cukup karena bagi seorang seniman, semuanya selesai ketika karya kita dibeli dan dipajang di rumah orang,” ucapnya.

Selanjutnya dia akan melelang karya-karyanya, meski sejak beberapa hari yang lalu sudah ada yang ingin membeli karyanya, dia tidak akan melepasnya sebelum pameran ini berakhir. Dia juga memiliki rencana untuk melakukan pameran di kota lain. Dia berharap pameran yang dibuatnya ini bisa memotivasi teman-teman yang lain untuk berkarya dan bisa menggerakkan teman-teman lainnya untuk memperlihatkan karya mereka sehingga karya-karya tersebut tidak hanya disimpan di rumah.

Pameran ini juga digagas sebagai responnya melihat fenomena Pontianak yang masih minim galeri seni yang bisa dipakai untuk memamerkan karya para arsitek maupun seniman yang lain. Dia menuturkan belakangan banyak teman-temannya yang mengeluh karena tidak ada apresiasi karya yang mereka dapatkan, mereka juga bingung harus dikemanakan karya mereka karena tidak ada galeri untuk mengarsipkan karya-karya tersebut.

”Saya berharap kawan-kawan yang lain bisa mengadakan pameran, meski bukan pameran tunggal. Buat beramai-ramai, jangan sampai karya yang sudah dibuat didiamkan begitu saja hanya karena belum ada galeri,” jelasnya.

Ibaratkan riset, dia ingin mengetahui sejauh mana karyanya bisa hadir dan dirasakan oleh pengunjung.

“Saya ingin melihat respon orang secara langsung, tidak dari sosial media semata. Saya ingin mereka datang dan langsung bicara pada saya,” katanya.

Dia berharap semangat yang dibawanya melalui pameran ini bisa sampai pada kawan-kawan yang lain. Setelah ini akan ada teman lainnya yang mengadakan pameran sehingga karya-karya yang telah dibuat tidak lagi hanya jadi pajangan di kamar, tapi bisa diperlihatkan pada orang lain. Pameran ini diharapkannya bisa mendorong regenerasi dalam berkarya.

Kontributor: Claudia Liberani

 


Tinggalkan Balasan