user-photo
Voice Of Borneo

Rajut Cinta bersama Komunitas Pemuda, VOB Adakan Musikalisasi Puisi, Nobar dan Diskusi

Spread the love

Voice Of Borneo – Film the imam and the pastor membuka perjumpaan komunitas pemuda Kalbar di Canopy Center pada tanggal 30 Oktober 2018. Suguhan berbalut toleransi tersebut membius semua insan yang menyaksikannya sebagai pemantik obrolan yang lebih menarik lagi.

Sebagai wadah yang menaungi semua komunitas, Voice Of Borneo (VOB) turut ambil bagian dalam kegiatan bertema “Sumpah Pemuda, Semangat Rawat Toleransi” ini. Dengan mengaungkan semangat persaudaraan antar sesama dan bicara aksi bersama untuk membuat karya sebagai bentuk rasa cinta kepada Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut lebih fokus bicara anak muda dan keberagaman yang memberi pandangan lebih luas untuk saling menghargai dan mencintai di kehidupan yang beragam ini. “Berbeda identitas bukan berarti tidak dapat menjalin kekeluargaan, sebab kita adalah saudara, satu ibu bernama Indonesia,” kata Mohammad salahsatu pemantik diskusi.

Bagi Mohammad, kegiatan ini menjadi embrio untuk menjalin relasi antar komunitas sehingga tercipta hubungan yang lebih dekat untuk merawat keberagaman di Indonesia.

Hal senada dikatakan Isa, untuk merawat keberagaman dan menunjukkan cinta kepada Indonesia dapat dilakukan dengan beragam cara. Tidak hanya melulu angkat senjata, tombak dan lainnya tetapi zaman sudah beda, banyak hal yang bisa dilakukan. “Bagi penulis, aksaranya dapat mengguncangkan dunia, bagi seniman, karya-karyanya akan memberikan makna terdalam sebagai wujud cintanya kepada semesta dan sesama,” papar Isa.

Menurut Isa, zaman sekarang banyak sekali yang dapat dilakukan untuk menunjukkan kepedulian terhadap sesama, alam, maupun melestarikan budaya. Apalagi anak millenial, dengan pemikiran terbuka dan memandang sesuatu dari banyak sisi sehingga karya yang dihasilkan juga sesuai dengan kemampuan mereka, entah itu video, tulisan, seni, desain dan lain sebagainya.

Kegiatan ini semakin menarik dengan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh peserta. Malam itu terasa sangat manis dengan iringan nada dan syair demi syair yang mengalun memenuhi Canopy Center. Kata-kata itu menghujam hingga semangat terbakar. Muhardi, Jun, dan peserta lain mampu membius setiap insan yang memadati ruangan itu.

Semua menikmati bait demi bait, hadir dalam makna yang tergores, terdiam dalam dekapan puisi yang sederhana tetapi sarat makna.


Tinggalkan Balasan