user-photo
Voice Of Borneo

Doa Bersama 100 Hari Meninggalnya Tino Saroengallo

Spread the love

Voice Of Borneo – Pernah nonton The Philosophers (2013) atau Sang Penari (2011) ? Beberapa film yang pernah diproduksi oleh Tino Saroengallo. Tidak hanya memproduksi berbagai film dari tahun ke tahun, Tino juga aktif menjadi pemain di beberapa film yang cukup terkenal di Indonesia, seperti Pesan dari Surga, Bis Malam maupun film lainnya.

Menariknya, Tino ini juga aktif membuat film dokumenter seperti Ayah Anak Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat (2008). Lalu, siapa sebenarnya Tino Saroengallo (TS) ini?

Sejak 1987 berkecimpung di beragam profesi berkaitan dengan media. Mulai dari reporter di tabloid dwi-mingguan “Mutiara”, majalah berita dwi-mingguan “X’tra”, majalah berita bergambar “Jakarta-Jakarta”, penulis lepas di berbagai media hingga akhirnya masuk ke dunia audio-visual pada saat stasiun televisi swasta RCTI berdiri tahun 1988. Sejak saat itu bekerja akrab dengan pembuatan program televisi sebagai Manajer Produksi maupun Penulis untuk program maupun drama televisi.

Pria kelahiran Jakarta, 1958 ini memiliki beragam peran. Di dunia film cerita, ia lebih banyak berkecimpung di departemen produksi menjadi Manajer Produksi, Manajer Lokasi atau malah Pemain. Film cerita yang pernah ia kerjakan sebagai bagian dari departemen produksi adalah “Victory” (Mark Peploe, 1995), “Last to Surrender” (David Mitchell, 1999), “Pasir Berbisik” (Nan T. Achnas, 2001), “Ca-bau-kan” 2002), “The Fall” (Tarsem Singh, 2006), “Jermal” (Ravi L. Bharwani, Rayya Makarim, Orlow Seunke, 2008), “Eat Pray Love” (Ryan Murphy, 2010), “Sang Penari” (Ifa Ifansyah, 2011) dan terakhir “The Philosophers” (John Huddles, 2013).

Sebagai pemain film ia pernah tampil sebagai figuran, cameo ataupun peran pendukung dalam film “Petualangan Sherina” (Riri Riza, 2000), “Arisan” (Nia diNata, 2003), “Pesan Dari Surga” (Sekar Ayu Asmara, 2006), “Dunia Mereka” (Lasya Fauzia, 2006), “Quickie Express” (Dimas Djayadiningrat, 2007), “Tri Mas Getir” (Rako Prijanto, 2008), “MBA” (Winalda, 2008), “Jagad X-Code” (Herwin Novianto, 2009), “Pintu Terlarang” (Joko Anwar, 2009), “Kabayan Jadi Miliuner” (Guntur Soeharjanto, 2010), “Rayya: Cahaya Di Atas Cahaya” (Viva Westi, 2012), “Soedirman” (Viva Westi, 2015), “Alim Lam Mim/3 Fighters” (Anggy Umbara, 2015), “The Fighters” (Monty Tiwa, 2015) dan “Bis Malam” (Emil Heradi, 2016). Ia selalu menyebut diri sebagai spesialis peran sekelebat.

Di dunia film dokumenter ia pernah memproduksi sebuah film dokumenter sejarah politik Indonesia berjudul “Student Movement in Indonesia: they forced them to be violent” yang mendapatkan penghargaan sebagai Film Pendek Terbaik dalam Asia Pacific Film Festival ke-47 di Seoul pada bulan Oktober 2002 dan Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Terbaik dalam Festival Film Indonesia di Jakarta pada tahun 2004. Salah satu dampak dari kemenangan ini adalah ia seringkali diundang menjadi juri festival film dokumenter seperti Festival Film Indonesia ataupun Eagle Awards Documentary Competition di Metro TV.

Tidak hanya itu saja, dia juga banyak terlibat dalam pembuatan film dokumenter televisi tentang Indonesia maupun peliputan berita stasiun televisi ARD-TV Jerman di Indonesia. Selain tulisan reportasenya yang pernah dimuat di berbagai media antara tahun 1986 – 1994, ia juga sudah menghasilkan dua buah buku yaitu “Ayah Anak Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat” (Penerbit Tembi, 2008) dan “Dongeng Sebuah Produksi Film” (Penerbit Intisari, 2008). Keduanya sudah diterbitkan ulang. Buku “Dongeng Produksi Film Dokumenter (Asing) di Indonesia” ini adalah buku ketiganya yang diterbitkan FFTV-IKJ Press pada 2015, buku pertama dari trilogi “Dongeng Produksi Film (Asing) di Indonesia.

Di samping menikmati profesi barunya sebagai aktivis facebook, pada awal November 2011 merilis film dokumenter tentang upacara pemakaman di Tana Toraja berjudul “Hidup Untuk Mati” (They Love to Die). Hasil kerjasama dengan sutradara/produser senior Gary Hayes, guru sekaligus rekan kerjanya sejak tahun 1993 sampai sekarang.

Pada 21 Mei 2013 ia merilis film dokumenter berjudul “Setelah 15 Tahun…” yang bisa dibilang merupakan sekuel dari film “Student Movement in Indonesia: The Army Forced Them To Be Violent”. Sebuah film dokumenter masih dalam tahap pasca produksi, berjudul “She Deserved It”, dan berkolaborasi dengan aktor senior Tio Pakusadewo dalam “Pantja-sila: Cita-cita & Realita”.)

Banyak karya yang sudah ditelurkan oleh TS dan ia menjadi sosok yang sangat dikenang oleh banyak orang. Tapi, pada tanggal 27 Juli 2018 lalu, Tino berpulang ke pangkuan Ilahi. Untuk mengenang 100 hari meninggalnya sosok inspiratif dalam perfilm-an ini, maka secara serentak berbagai kota, termasuk Kota Pontianak mengadakan Doa bersama dan nonton film produksi terakhir Tino.

Untuk Pontianak, acara ini akan diadakan pada tanggal 3 November 2018 pukul 19.30 bertempat di Canopy Center Jalan Purnama 2 Nomor 20, Pontianak.

Jangan lupa untuk datang, ajak semua sanak saudara, kita panjatkan doa dan apresiasi untuk Tino Saroengallo.

 


Tinggalkan Balasan