user-photo
Voice Of Borneo

Mangrara Banua, Karya Terakhir Tino Saroengallo

Spread the love

Voice Of Borneo – Tak ada yang akan dikenang orang ketika kita sudah berpulang kecuali karya yang telah dipersembahkan. Begitulah manusia, ketika tidak lagi ada di dunia fana ini, tak mudah bagi sesamanya mengingat bahkan mengenang mendiang kecuali ada sesuatu yang membuatnya dikenang sepanjang masa.

Seperti Gus Dur, Ir. Soeharto, Pramoedya Ananta Toer dan yang lainnya, mereka dikenang hingga saat ini karna buku maupun pemikiran yang mampu membuat perubahan. Dari masa ke masa, namanya tak hilang ditelan sejarah.

Begitu juga dengan Alm. Tino Saroengallo, siapa yang tidak mengenal sosok yang telah menelurkan banyak karya ini. Selain pernah berkecimpung sebagai jurnalis di beberapa media, dia juga turut ambil bagian dalam pengarapan berbagai film, iklan, bahkan didapuk sebagai pemain film. Semua itu ia jalani hingga menghasilkan karya yang luar biasa.

Selain itu, Tino juga mulai fokus dalam pengarapan film dokumenter hingga mampu menyabet berbagai penghargaan baik nasional maupun internasional. Hasil ini dapat diraih Tino bukan datang tiba-tiba tetapi melalui proses dan tentu saja konsisten.

“Kalau bikin film jangan main-main, kalau main-main jangan bikin film,” Kenang Iswadi yang pernah berjumpa langsung dengan Alm. Tino. Kalimat itu dilontarkan Tino untuk memberi semangat kepada sejawat yang juga fokus menekuni dunia film.

Sosok Tino yang dikenal keras tapi baik hati tersebut tak bisa dihapus dalam ingatan. Setiap insan yang pernah bertemu langsung akan mengatakan hal yang sama. Tino, sosok yang layak menjadi panutan, baik dalam berkarya maupun bergaul.

Sebelum akhirnya berpulang ke pangkuan Sang Ilahi, Tino membuat sebuah film seolah pertanda akan berpulang. Film ini berjudul “Mangrara Banua atau Darah Pentahbisan”, sebuah karya yang menceritakan adat istiadat Rumah Tongkonan, Toraja. Sebuah budaya dimana nenek moyang Tino Saroengallo berasal. Seperti sebuah isyarat, dia meninggalkan karya untuk mendokumentasikan adat lelulurnya.

Meski dalam keadaan sakit, Tino masih mengawal karya terakhirnya ini. Tetapi sayang, maut lebih dulu menjemput sebelum Tino dapat menyaksikan film yang dibuatnya tersebut. Juli 2018 lalu, Tino pamit untuk selama-lamanya, bertemu Sang Pencipta yang memberi semua kehidupan.

Semua insan baik yang pernah bertemu langsung maupun tidak, tentu merasa sangat kehilangan sosok Tino. Tidak dapat lagi berjumpa dengan Tino kecuali lewat karya yang sudah bertebaran dimana-mana. Banyak sekali orang yang sayang sama Tino, hingga mengenang 100 hari meninggalnya, beberapa kota yang tergabung dalam Komunitas Dokumenter Indonesia mengadakan Doa bersama dan pemutaran film karya terakhir Alm. Tino.

Pontianak juga termasuk di dalamnya mengadakan kegiatan secara serentak pada tanggal 3 November 2018 bertempat di Canopy Center. Puluhan orang datang, berdoa bersama untuk almarhum. Keluarga Tino yang berada di Pontianak juga turut serta dalam kegiatan tersebut dan menceritakan memang sosok Tino ini dekat dengan semua orang. Hadirnya keluarga Tino dalam acara tersebut menambah kedekatan dengan almarhum.

Selain mengenang Tino, ternyata film ini mampu membius para penontonnya dan membuat orang penasaran dengan adat Toraja. Hal ini terbukti dengan hampir semua yang datang sangat antusias untuk kenal lebih dalam kebudayaan Toraja. Apalagi, ada pemandangan unik di sini, dari rekaman yang disuguhkan Tino, memperlihatkan betapa dekatnya orang di sana, budaya menjadi pemersatu agama. Tidak ada lagi Kristen atau Islam, semua melebur jadi satu untuk merayakan Mangrara Banua sebagai ucapan syukur pergantian atap Rumah Tongkonan.

Doa bersama 100 hari wafatnya Tino Saroengallo dan pemutaran film karya terakhir Tino Saroengallo diadakan oleh Coffee Cinema, didukung Voice of Borneo dan Canopy Indonesia.

Selamat jalan Tino Saroengallo, namamu akan dikenang sepanjang masa, karyamu abadi. (Crew VOB/Isa Oktaviani)


Tinggalkan Balasan